Islam Jama’ah didirikan oleh seorang yang bernama KH. Nur Hasan Al Ubaidah, yang menurut pengakuannya bahwa jema’ah ini telah ada sejak tahun 1941. Kelompok ini berdiri pertama kalinya dengan nama Darul Hadits. Pertanyaan yang timbul adalah apakah benar LDII adalah reinkarnasi dari Islam Jama'ah? Tidak diragukan lagi, memang demikian adanya. LDII adalah nama organisasi yang menaungi Islam Jama'ah tersebut. Buktinya?
Mudah saja, coba anda teliti di masjid-masjid LDII atau rumah-rumah simpatisan LDII, mereka memasang gambar ukuran besar KH. Nur Hasan Al Ubaidah di dinding-dinding bangunan mereka. Sekarang kita review sidikit tentang orang ini, apa benar dia menyebarkan aliran sesat.
KH. Nur Hasan Al Ubaidah dilahirkan di Bangi, tahun 1908 dengan nama kecil Madkhal (Media-media sering menulisnya dengan sebutan Madigol, padahal penulisan ini keliru), dia adalah putra ke empat KH. Abd. Aziz bin H. Thohir. Ayahnya adalah seorang kyai tersohor sekaligus pendekar silat, jadi tidak heran jika dia mewarisi ilmu agama dan ilmu bela diri. Si kecil Madkhal sudah diajak beribadah haji, mulai saat itulah dia diberi nama H. Ubaidah.
Madkhal pernah menuntut ilmu di pesantren-pesantren seantero Jawa, antara lain Pondok Termas Pacitan, Batu Ampar Madura, Tebu Ireng Jombang, Semelo Perak jombang dll. Di Semelo dia dikenal pandai berqiro`at dan sering mendampingi KH. Zaid berceramah.
Tahun 1929 dia hijrah ke Makkah menyusul kakaknya yang bermukim di sana untuk menuntut ilmu agama. Keberangkatannya ke Makkah ini dengan modal yang sangat minim, namun akhirnya sampai dengan selamat. Di sana dia bertemu dengan seorang anak muda bernama Fadhil, yang akhirnya menemaninya menuntut ilmu di Makkah. KH. Nur Hasan Al Ubaidah sempat berdebat dengan ulama' Makkah selama satu tahun dengan mengerahkan semua ilmunya dari kitab-kitab yang dia pelajari di Indonesia, namun selalu kalah dan disalahkan oleh ulama' Makkah. Akhirnya dia sadar bahwa ilmu ulama Makkah yang berdasarkan Al Qur'an dan Al Khadist itulah yang benar. Akhirnya dia belajar kembali dari Nol, kepada ulama'-ulama' Makkah antara lain; Syeh Abu Syamah, Syeh Muhammad Siroj, Sayid Amin, Syeh Hijazi, Syeh Mahmud Sueh, Syeh Umar Hamdan, Sayyid Alwi, Al-Ustad Abdullah, Syeh Bakir, Syeh Malik, Syeh Abdur Rozaq. Dan dalam waktu 10 tahunan berhasil menguasai ilmu tafsir Al-Qur'an, Bacaan Al-Qur'an (Qiro'atussab'ah), dan 49 kitab-kitab Khadist.
Tahun 1941 dia pulang ke Indonesia dengan membawa segudang ilmu itu, namun ketika dia menyampaikan pada masyarakat luas, banyak yang menolak daripada yang menerima. Kebanyakan orang menyebutnya pembawa islam baru, pembawa aliran sesat dsb, berikut juga pengikut ajarannya yang sekarang ini telah berganti nama menjadi LDII, juga dianggap mempunyai keyakinan menyimpang.
Saya tidak mengatakan islam jama'ah itu benar, namun coba kita renungi, mungkinkah orang yang sudah belajar di semua pondok-pondok pesantren di Jawa kemudian berangkat belajar ke Makkah akan pulang membawa ilmu sesat? Anda sendiri yang bisa menyimpulkan.
Sumber tulisan: Wawancara dengan KH. Nur Asnawi alm, teman seperjalanan KH. Nur Hasan Al Ubaidah di Makkah, yang ditulis dalam sebuah makalah th 2002 dan 2006.
PERHATIAN!
Saya hanya orang iseng yang menulis kebenaran apa adanya berdasarkan pengalaman, bukti, dan saksi, Tidak bermaksud membela ataupun menghujat golongan tertentu. Dan saya bukanlah simpatisan LDII
